Menu

Mode Gelap

Opini · 1 Jun 2026 21:25 WIB ·

MEBIDANGROLA; KETIKA APARAT (TAK) BERDAYA MELAWAN KUASA RAJA – RAJA NARKOBA


 MEBIDANGROLA; KETIKA APARAT (TAK) BERDAYA MELAWAN KUASA RAJA – RAJA NARKOBA Perbesar

Oleh ; Ahmad Daud S.Sos*

suarakyat.id—Memang kalau soal narkoba, Sumut konsisten berada diperingkat 1 jadi juara peredaran narkoba di Indonesia. Sudah belasan kali pergantian aparat hukum mulai dari tingkat Provinsi hingga Kecamatan. Kondisi di Sumatera Utara tak berubah juga.

Terbaru buat bergidik ngeri, pria yang diduga jadi korban pengeroyokan preman suruhan bandar bahkan RS dikatakan menolak untuk mengobatinya.

Ini bukan lagi sudah gawat, tapi mengerikan; bagaimana tidak, institusi kesehatan yang harusnya independen dan bekerja dasar kemanusiaan pun sudah ketakutan melakukan tupoksinya.

Dahulu tahun 80 hingga 90 an, orang memakai narkoba sangat harus sembunyi. Masih ada malu dan ketakutan jika melakukannya diruang publik.

Tapi kini , bukan hanya hilang malu bahkan penggunaan narkoba telah mempunyai “kampung-kampung”. Di “kampung-kampung” itu anda cukup tinggal datang maka bebas menghisap narkoba sebanyak anda mau.

Bahkan ketika aparat berupaya memberantasnya, perlawanan bukan hanya dari terduga pengedar bahkan warga sekitar juga turut melawan. Informasi yang beredar, karena bandar di kawasan kampung tersebut rajin memberi bantuan sembako.

Akhirnya,muncullah kampung-kampung narkoba tersebut. Kini musuh aparat jadi bertambah bukan hanya pengedar, tapi warga sekitar juga jadi “tukang back up” bandar narkoba tersebut.

Hal tersebut terjadi baru -baru ini dikawasan Multatuli, Kota Medan.
Para bandar tersebut sangat tahu bagaimana memainkan psikologis kemiskinan yang diderita warga sekitar ini. Bak Robin Hood saja, warga merasa ditolong nasibnya oleh para bandar.

Terciptalah simbiosis saling “memahami” antara mereka. Sembako cukup efektif membuat warga sekitar kampung narkoba tersebut loyal “menjaga” para bandar.

Medan, Binjai, Deli Sedang, Tanah Karo dan Langkat adalah daerah utama berdirinya “kampung-kampung” narkoba tersebut. Bahkan di kawasan Sunggal Deli Serdang, barak Narkoba tak sampai 200 meter dari mesjid dilingkungan tersebut.

Baru – baru ini juga viral bagaimana guru ngaji di Deli Serdang diteror oleh keluarga terduga pelaku pengedar/pengguna narkoba di daerahnya.

Kenapa kita harus marah terhadap kondisi ini. Karena banyaknya “kampung-kampung narkoba” tersebut lah maka begal, tawuran, geng motor terus berulah di Sumatera Utara. Narkoba menjadi induk kejahatan-kejahatan lahirnya tindak kriminalitas tersebut.

Berulang kali dirazia, tapi kemudian berdiri lagi. Pablo Escobar banyak sudah di Sumatera Utara ini. Kini mereka bukan hanya sekedar pengedar tapi juga jadi “penguasa kawasan”. Dari mulai aparatur sipil sampai keamanan nyaris tak berdaya melawan mereka.

Usul saya pada Bapak Presiden Prabowo. Tolonglah Bapak Presiden, selain TNI / Polri sibuk berkebun dan mengurusi MBG/Kopdes. Juga perintahkanlah mereka basmi barak-barak narkoba dikawasan wilayah dapur MBG / Kopdes di daerah tersebut.

Karena bagaimana mungkin jualan Kopdes laku kalau uang belanja keluarga habis buat narkoba dan gizi anak bisa baik kalau sekarang ini narkoba sudah menjangkiti hingga anak SD?

*Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI)*

 

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

KEKUASAAN, KARAKTER, DAN UJIAN INTEGRITAS

5 Juni 2026 - 00:29 WIB

PARA GOD FATHER NARKOBA DI MEBIDANGROLA ; SUMUT MENUJU KAMPUNG ZOMBIE

2 Juni 2026 - 22:33 WIB

Boikot Pemilu 2029? Demokrasi Bukan Sekadar Kebebasan, Tapi Kedisiplinan Konstitusional (Sebuah kritik Atas Pandangan Politik Saiful Mujani)

1 Juni 2026 - 22:44 WIB

ANATOMI REVOLUSI: KRITIK ATAS PANDANGAN ROCKY GERUNG DAN TIYO ARDIANTO

30 Mei 2026 - 23:00 WIB

Idul Adha dan Spirit Ibrahimik dalam Menjawab Krisis Identitas Generasi Modern-Digital

27 Mei 2026 - 08:54 WIB

Etika Dokumenter Dan Hak Publik: Antara Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab Moral

24 Mei 2026 - 20:53 WIB

Trending di Opini