Malang, suarakyat.id – Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof. Dr. Ahmad Barizi, M. A., memberikan pandangan kondisi ideal yang seharusnya ada di pesantren. Ia menjelaskan bahwa pesantren sebagai wadah untuk berkumpulnya manusia shalih yang terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela.
“Pesantren sejatinya adalah tempat berkumpulnya manusia-manusia shalih, mulai dari kyai (pengasuh), ustadz, dan santri. Sebagai manusia yang shalih, seharusnya jauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat” ungkapnya.
Ia sangat meyayangkan dengan adanya kasus penyimpangan yang terjadi di pesantren akhir-akhir ini.
“Maka sungguh ironi bila di pesantren ditemukan praktik-praktik dosa dan maksiat, apalagi dilakukan oleh kyai pada santri,” tegasnya.
Selain itu, ia menambahkan pesantren sebagai miniatur utama proyeksi peradaban Islam di indonesia yang melahirkan tokoh-tokoh sentral baik secara sosial ataupun politik.
“Sejauh yang saya tahu pesantren merupakan miniatur utama peradaban Islam di Indonesia yang memungkin melahirnya ulama-ulama yang shalih, di bidang ilmu maupun etika. Karena itu, seluruh aktivitas di pesantren bergerak selama 24 jam di bawah bimbingan Wahyu, melalui pembelajaran yang dipenuhi dengan ilmu, etika, dan adab, yang seharusnya jauh dari hal-hal menyimpang,” ungkapnya.
Menurut Prof. Barizi adanya penyimpangan yang akhir-akhir ini terjadi, seperti pelecehan seksual di pesantren di Pati, karena ajaran-ajaran suci dan mulia di atas tidak lagi menjadi perhatian.
Lebih lanjut Prof. Barizi menjelaskan pesantren selain mengajarkan akan ilmu (tafaqquh fi al-Din), hal yang ditekankan adalah akhlaq atau adab. Adab santri ke kyai, dan sebaliknya adab kyai ke santrinya.
Bahkan ia menceritakan pengalaman kilas balik selama hidup di pesantren yang kurang lebih dijalani selama 6 tahun.
“Selama kurang lebih 6 tahun saya nyantri di Podok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura, kyai menyapa para santri itu dengan bahasa Madura halus dan lembut (kromo inggil). Tak pernah kyai itu menyapa santri dengan namanya langsung, tapi diawali dengan sebutan Bindereh, satu sapaan atau panggilan yang memuliakan. Di sinilah pentingnya bahwa pesantren perlu menguatkan kembali nilai-nilai akhlaq dan adab, secara timbal-balik, santri ke kyai atau ustadz, atau kyai/ustadz ke santri,” jelasnya.
Menurutnya, akhlaq dan adab merupakan keunggulan utama pesantren dibandingkan dengan sistem pendidikan lain. Awalnya, pesantren berbeda dengan sistem sekolah dan perguruan tinggi, yang hanya mengedepankan intelektual dan keterampilan. Pesantren lebih dari itu, yaitu menanamkan nilai-nilai kepribadian yang memungkinkan santri dan alumninya untuk bisa beradaptasi, dan bahkan bersaing di setiap kemajuan masyarakat.
Bahkan, ia melihat kondisi ideal pesantren dari kacamata tasawuf, yang mengajarkan tentang ilmu tirakat, sederhana, sabar, disiplin yang menjadi nilai utama pesantren.
“Meminjam istilah tasawuf, pesantren juga mengajarkan apa yang disebut tirakat. Melalui karakter tirakat, ini kemudian melahirkan pribadi-pribadi shalih yang melekat padanya sikap sederhana (qana’ah, zuhud), sabar plus disiplin (seperti antri mandi, antri makan), dan sikap kolaborasi/kerjasama tanpa sekat (tasamuh, tawasuth, dan ‘adl). Sikap-sikap shalih ini dibentuk secara terus-menerus dan istiqamah di pesantren, sampai santri itu msmpu memaknai dirinya sebagai manusia yang selalu butuh orang lain atau sikap al-faqr, penuh kepeduliaan dan keberpihakan,” pungkasnya.
Nilai-nilai sufistik demikian kiranya perlu untuk secara istiqamah dibelajarkan di pesantren, agar tidak lagi terjadi praktik-praktik menyimpang.
“Pesantren harus kembali pada ruhnya. Nilai kesufian bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi utama agar lembaga ini tetap menjadi cahaya peradaban,” pungkasnya.






