Menu

Mode Gelap

Opini · 2 Mei 2026 22:31 WIB ·

Etika Politik di Era Disinformasi (Tanggapan atas Pernyataan Amien Rais)


 Etika Politik di Era Disinformasi (Tanggapan atas Pernyataan Amien Rais) Perbesar

Suarakyat.id—Dalam tradisi Etika Politik, integritas bukan sekadar pilihan—melainkan fondasi legitimasi. Pernyataan publik seorang elite harus berpijak pada fakta, bukan asumsi, apalagi materi yang belum terverifikasi.

Polemik dan kegaduhan di selasar media sosial sebagai akibat ulah seorang Amien Rais, mencerminkan problem klasik dalam politik kontemporer: krisis verifikasi di tengah derasnya arus disinformasi.

Sejumlah studi dalam bidang komunikasi politik menunjukkan bahwa penyebaran informasi berbasis hoaks tidak hanya merusak reputasi individu, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi. Laporan berbagai media nasional dalam beberapa tahun terakhir pun menegaskan bahwa disinformasi kerap menjadi alat delegitimasi politik yang berbahaya.

Dalam konteks ini, kita diingatkan pada pandangan Abdurrahman Wahid, yang kerap menekankan pentingnya kejernihan moral dan kerendahan hati dalam berpolitik. Kritik boleh keras, tetapi harus tetap berlandaskan kebenaran.

Sejalan dengan itu, Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa etika politik bertumpu pada kejujuran, tanggung jawab, dan orientasi pada kebaikan bersama.
Dalam berbagai karyanya, ia mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa komitmen moral akan mudah tergelincir menjadi alat manipulasi. Karena itu, elite politik dituntut untuk tidak hanya cerdas secara strategis, tetapi juga jujur secara intelektual—tidak menyebarkan informasi yang belum teruji, apalagi jika berpotensi memecah belah masyarakat.

Perspektif serupa juga tercermin dalam pemikiran Ahmad Syafii Maarif. Buya Syafii menekankan bahwa politik harus berpijak pada moralitas dan kejujuran, bukan kepentingan sempit yang mengorbankan persatuan bangsa.

Sementara Ibnu Taimiyah mengingatkan bahwa keadilan adalah inti dari kekuasaan—bahkan kekuasaan yang tidak sempurna akan bertahan jika adil, dan akan runtuh jika zalim.

Sejalan dengan Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun melalui konsep ‘ashabiyah menunjukkan bahwa kohesi sosial dan solidaritas kolektif adalah syarat utama keberlangsungan sebuah peradaban—sesuatu yang justru terancam ketika elite memperkeruh ruang publik dengan narasi yang tidak bertanggung jawab

Sejarah mencatat, pada era Reformasi 1998, figur seperti Amien Rais hadir sebagai simbol keberanian moral melawan otoritarianisme. Namun, legitimasi moral bukanlah sesuatu yang statis—ia harus terus dijaga melalui konsistensi sikap dan kedalaman tanggung jawab intelektual.

Di era digital hari ini, ketika satu potongan video dapat dimanipulasi dan menyebar dalam hitungan detik, standar etika seharusnya semakin tinggi, bukan justru dilonggarkan. Elite politik memiliki kewajiban untuk menjadi penjernih, bukan memperkeruh.

Persatuan elite bukan berarti meniadakan kritik, melainkan mengedepankan kedewasaan dalam menyampaikan perbedaan. Demokrasi yang sehat membutuhkan kontestasi gagasan, bukan pertarungan narasi yang rapuh.

Pada akhirnya, menjaga kualitas ruang publik adalah tanggung jawab bersama. Dan bagi para tokoh bangsa, setiap kata yang diucapkan bukan hanya mencerminkan diri mereka—tetapi juga menentukan arah kepercayaan publik terhadap masa depan demokrasi itu sendiri.

Penulis: Tino Rahardian (Analis Kebijakan Publik)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

KAMPUNG NELAYAN MERAH PUTIH, HARAPAN BARU MASYARAKAT PESISIR

12 Mei 2026 - 20:18 WIB

MCR Darussalam Membersamai Umat untuk Perjuangan

10 Mei 2026 - 15:51 WIB

Kritik Ideal Prof. Barizi terhadap Realitas Pesantren

6 Mei 2026 - 23:16 WIB

Negara Hadir di Tengah Buruh: Dari Monas Menuju Politik Kesejahteraan Inklusif

1 Mei 2026 - 23:51 WIB

Atmosfer Patriotik: Dari Nyanyian Pelajar ke Energi Pembebasan

30 April 2026 - 18:17 WIB

Kegagalan Menggulingkan Presiden Prabowo

29 April 2026 - 10:12 WIB

Trending di Opini