Menu

Mode Gelap

Opini · 29 Apr 2026 10:12 WIB ·

Kegagalan Menggulingkan Presiden Prabowo


 Kegagalan Menggulingkan Presiden Prabowo Perbesar

suarakyat.id—Dalam hampir dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, dinamika relasi antara pemerintah dan oposisi memperlihatkan pola yang dapat dibaca melalui lensa teori administrasi publik dan komunikasi politik. Serangan yang datang bertubi-tubi, tanpa basis empiris yang kokoh, cenderung mengalami erosion of credibilitypengikisan kredibilitas narasiitu sendiri.

Dalam perspektif public value theory, legitimasi tidak lahir dariretorika, melainkan dari nilai nyata yang dirasakan publik. Ketika isu kenaikan harga BBM subsidi, tudingan anti-kritik, militeristik, hingga narasi makar yang sempat dikaitkan dengan Syaiful Mujani mengemuka, publik tidak lagi pasif. Mereka menimbang, membandingkan, dan menyimpulkan berdasarkan pengalaman sehari-hari.

Di titik ini, konsep cognitive dissonance resolution bekerja. Narasi “ekonomi stagnan”, “Indonesia gelapberhadapan dengan indikator makro yang relatif terjaga. Tuduhan “anti-rakyat” berhadapan dengan realitas distribusi pangan dan stabilitas kebutuhan pokok. Ketika jarak antara narasi dan kenyataan terlalu lebar, publik cenderung berpihak pada apayang mereka rasakan, bukan sekadar yang mereka dengar.

Fenomena tersebut juga berkait dengan agenda-setting dan framing. Upaya membingkai realitas akan melemah ketika tidak ditopang oleh bukti empiris. Di sisi lain, performa kebijakan yang konkret menjadi counter-frame yang sunyi namun efektifia tidak berisik, tetapi terasa.

Dalam kerangka yang lebih luas, kegagalan mobilisasi politik ekstremtermasuk wacana makarmemiliki ciri yang dapat diidentifikasi secara teoretik: minim legitimasi publik dan tanpa basis massa besar; narasi yang tak meyakinkan serta kehilangan resonansi; ide makar yang terasing dari realitas sosial; serta kesalahan membaca momentum politik. Keempat indikator ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan tidak runtuh karena represisemata, melainkan karena rapuh sejak dalam konsepsi.

Di sinilah relevan untuk mencermati bahwa kelompok-kelompok anti-pemerintah tidak pernah berhasil mengonversi ketidakpuasan menjadi energi kolektif yang terorganisasi. Kelompok-kelompok anti-Prabowo selalu gagal menggerakkanenergi rakyat menjadi kekuatan kudeta. Bukan karena dibungkam, tetapi karena mereka tidak lagi dipercaya. Dalam terminologi administrasi publik, ini adalah krisis trust deficit di pihak pengusung narasi, bukan semata keunggulan komunikasi pemerintah.

Namun demikian, kritik tetap esensial. Dalam sistem demokrasi, oposisi berfungsi sebagai penyeimbang dan pengawas kekuasaan. Ketika kritik berbasis data dan realitas, iamemperkuat kualitas kebijakan. Sebaliknya, ketika ia terjebak dalam reproduksi narasi tanpa verifikasi, ia kehilangan fungsi korektifnya.

Kepercayaan publik pada akhirnya tidak dibangun dari suarapaling keras, melainkan dari konsistensi antara kebijakan dan implementasi. Ia tumbuh perlahan, dari stabilitas yang dirasakan, dari kebutuhan dasar yang terpenuhi, dari kebijakan yang adaptif terhadap dinamika zaman.

Dalam lanskap demokrasi digital yang cair, kebenaran diujibukan hanya di ruang wacana, tetapi di ruang pengalaman. Dan ketika pengalaman kolektif berbicara lebih jernih daripadanarasi, maka satu per satu serangan kehilangan momentumnyabukan karena dibungkam, melainkan karena tak lagi menemukan tempat di benak publik.

Penulis: Tino Rahardian, S.A.P., M.A.P (Analis Kebijakan Publik)

Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

KAMPUNG NELAYAN MERAH PUTIH, HARAPAN BARU MASYARAKAT PESISIR

12 Mei 2026 - 20:18 WIB

MCR Darussalam Membersamai Umat untuk Perjuangan

10 Mei 2026 - 15:51 WIB

Kritik Ideal Prof. Barizi terhadap Realitas Pesantren

6 Mei 2026 - 23:16 WIB

Etika Politik di Era Disinformasi (Tanggapan atas Pernyataan Amien Rais)

2 Mei 2026 - 22:31 WIB

Negara Hadir di Tengah Buruh: Dari Monas Menuju Politik Kesejahteraan Inklusif

1 Mei 2026 - 23:51 WIB

Atmosfer Patriotik: Dari Nyanyian Pelajar ke Energi Pembebasan

30 April 2026 - 18:17 WIB

Trending di Opini