Menu ✖

Mode Gelap

Nasional · 21 Sep 2026 12:31 WIB ·

Komjen Asep Edi Suheri: Kepemimpinan Presisi di Tengah Kompleksitas Jakarta


 Komjen Asep Edi Suheri: Kepemimpinan Presisi di Tengah Kompleksitas Jakarta Perbesar

Oleh: Moh. Khairi, M.AP.*

Kepemimpinan Komjen Pol. Asep Edi Suheri di Polda Metro Jaya menunjukkan potret kepolisian modern yang bekerja dalam tekanan tinggi, namun tetap terukur dan berorientasi pada hasil.

Jakarta bukan wilayah yang mudah. Dengan 74.013 laporan polisi sepanjang 2025 atau sekitar 16 persen dari total laporan nasional, Polda Metro Jaya memikul beban kerja yang jauh di atas rata-rata Polda lain. Volume yang besar ini menuntut pemimpin yang tidak hanya piawai secara manajerial, tetapi juga memiliki jam terbang reserse yang matang.

Di sinilah kekuatan Asep Edi Suheri terlihat. Lulusan Akpol 1994 dengan rekam jejak panjang di reserse, siber, dan kejahatan lintas negara, ia memahami bahwa penegakan hukum tidak bisa berhenti di permukaan.

Hal itu paling jelas terlihat dalam pemberantasan narkotika. Periode Januari-Juni 2026, Polda Metro Jaya mengungkap 3.809 kasus dengan 5.196 tersangka dan menyita 17,45 ton barang bukti. Angka yang luar biasa, namun yang lebih penting adalah paradigmanya: penyidikan tidak hanya menyasar pemakai dan pengedar, tetapi membongkar jaringan, pengendali, aliran dana, hingga aset. Puncaknya adalah pengungkapan jaringan internasional 516 kilogram sabu yang berujung pada penghargaan Pin Emas Kapolri bagi delapan personel Ditresnarkoba. Ini adalah pesan tegas bahwa Jakarta tidak memberi ruang bagi narkotika internasional.

Di sisi lain, Asep Edi Suheri juga menampilkan wajah polisi yang humanis. Instruksinya pada September 2025 saat pengamanan demonstrasi menjadi penanda penting: kedepankan pendekatan humanis, profesional, persuasif, sabar dan terukur, tanpa senjata api, dan penggunaan gas air mata harus seizin Kapolda langsung. Di kota yang menjadi barometer demokrasi nasional, pendekatan ini menyeimbangkan dua hal yang sering dipertentangkan: ketertiban dan kebebasan berekspresi. Keberhasilan tidak lagi diukur dari seberapa keras massa dibubarkan, tetapi seberapa aman hak menyampaikan pendapat dijaga.

Kematangan kepemimpinan itu diperkuat dengan kemampuan membangun jembatan koordinasi. Audiensi dengan pimpinan DPRD DKI Jakarta pada September 2026 menunjukkan bahwa Polda Metro Jaya di bawahnya tidak bekerja secara eksklusif, melainkan membuka diri pada sinergi antarlembaga untuk menjawab dinamika masyarakat.

Kenaikan pangkat menjadi Komisaris Jenderal Polisi pada 13 Mei 2026 sembari tetap memimpin Polda Metro Jaya adalah pengakuan institusi atas kapasitas tersebut. Tidak banyak Kapolda yang menyandang tiga bintang di pundak sambil tetap memimpin wilayah tersulit di Indonesia.

Pada akhirnya, kepemimpinan Asep Edi Suheri memberikan pelajaran bahwa menangani Jakarta membutuhkan kombinasi antara ketegasan dalam memberantas kejahatan kelas berat dan kebijaksanaan dalam merawat ruang publik. Di tengah tuntutan keamanan ibu kota yang kompleks, model kepemimpinan presisi seperti inilah yang dibutuhkan.

*Penulis adalah analis politik dan kebijakan publik

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

KCB Nilai Penunjukan Irjen Dedy Kusuma Bakti sebagai Kabaintelkam Polri Tepat, Pengalaman Intelijen Jadi Modal Besar

16 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Dukung Langkah Tegas Kapolri Jenderal Suyudi, DPP Mahasantri: Berharap Dekat dengan Kiai dan Pesantren

4 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Peringati Hari Santri Nasional, DPP MAHASANTRI Akan Lantik DPW DKI Jakarta

1 Oktober 2026 - 03:38 WIB

Keracunan Berulang Program Makan Bergizi Justru Mengancam Psikologis Anak

2 September 2026 - 12:45 WIB

DPP MAHASANTRI Imbau Aksi 27 Agustus di DPR RI Berlangsung Tertib dan Kondusif

27 Agustus 2026 - 00:09 WIB

Warga Tanimbar Gelar Aksi Demo di Kedubes Jepang, Desak Penyelesaian Hak Tanah Adat Blok Masela

4 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Trending di Aksi unjuk rasa