Menu

Mode Gelap

Uncategorized · 2 Jun 2026 22:38 WIB ·

Mengenang 129 Tahun Tan Malaka: Mimpi yang Tak Pernah Padam untuk Republik


 Mengenang 129 Tahun Tan Malaka: Mimpi yang Tak Pernah Padam untuk Republik Perbesar

Oleh: Tino Rahardian, S.AP., M.AP.

suarakyat.id—Medio pertengahan 90-an, saya adalah mahasiswa tahun pertama ketika bertemu dengan pemikiran Tan Malaka tentang Materialisme, Dialektika, Logika atau lebih akrab dengan nama MADILOG.

Saya seperti anak-anak muda lainnya yang selalu terkesima dengan gagasan “membongkar” paham-paham lama. Dari situ saya mulai jatuh hati kepada Datuk Sutan Malaka yang kelak bergelar “Bapak Republik Indonesia.”

Pada 2 Juni 2026, bangsa Indonesia mengenang 129 tahun kelahiran Tan Malaka, salah satu putra terbaik republik yang jejak hidupnya masih menjadi bahan diskusi, perdebatan, sekaligus inspirasi hingga hari ini. Lahir di Nagari Pandam Gadang, 38 kilometer dari ibu kota Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Pada 2 Juni 1897, Tan Malaka tumbuh dari lingkungan Minangkabau yang menjunjung tinggi tradisi religius, intelektual, pendidikan, dan keberanian berpikir. Dari ruang-ruang belajar di tanah kelahirannya hingga bangku pendidikan di Belanda, ia menempa dirinya menjadi seorang pemikir yang melampaui zamannya.

Tan Malaka bukan hanya seorang aktivis politik. Ia adalah guru, penulis, organisator, sekaligus filsuf perjuangan. Dalam berbagai penelitian sejarah, baik yang dilakukan oleh sejarawan Indonesia maupun akademisi internasional seperti Harry A. Poeze, Rudolf Mrázek, dan Takashi Shiraishi, Tan Malaka digambarkan sebagai tokoh yang memiliki cakrawala pemikiran luas serta jaringan pergerakan yang melintasi batas-batas negara kolonial. Ia menjelajahi Asia dan Eropa, hidup dalam pengasingan, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, namun tidak pernah meninggalkan satu cita-cita: Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Perjalanan politik Tan Malaka memang tidak selalu sejalan dengan arus utama pergerakan nasional. Ia sering berada di persimpangan sejarah, bahkan kerap berseberangan dengan tokoh-tokoh besar pada masanya. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ia mengajarkan bahwa kecintaan kepada bangsa tidak selalu harus diwujudkan melalui keseragaman pendapat. Dalam demokrasi yang sehat, perbedaan gagasan adalah bagian dari perjuangan untuk menemukan jalan terbaik bagi masa depan bangsa.

Melalui karya monumentalnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Tan Malaka mengajak bangsa Indonesia untuk membangun tradisi berpikir rasional, kritis, dan ilmiah. Baginya, kemerdekaan politik harus disertai kemerdekaan berpikir. Sebab sebuah bangsa tidak akan benar-benar merdeka apabila masih terbelenggu oleh ketakutan, kebodohan, dan ketidakmampuan menggunakan akal sehatnya sendiri.

Tan Malaka juga termasuk tokoh yang sejak awal menolak segala bentuk kolonialisme dan dominasi asing atas tanah air. Gagasannya tentang republik yang merdeka seratus persen lahir jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945. Ia bermimpi tentang sebuah negara yang berdiri tegak di atas kekuatan rakyatnya sendiri, menghormati martabat manusia, serta menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

Sejarah memang tidak selalu berlaku adil kepada para pejuangnya. Tan Malaka mengalami pengasingan, perburuan politik, penjara, hingga akhirnya gugur dalam konflik revolusi pada tahun 1949 di usia 51 tahun. Namun waktu membuktikan bahwa gagasan lebih sulit dibunuh daripada manusia. Pada tahun 1963, negara menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional sebagai pengakuan atas jasa dan pengorbanannya bagi republik.

Hari ini, ketika Indonesia telah berdiri sebagai negara merdeka, mengenang Tan Malaka bukanlah sekadar mengenang masa lalu. Mengenangnya berarti menghidupkan kembali keberanian untuk berpikir merdeka, keberanian untuk berbeda tanpa membenci, serta keberanian untuk memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan kemanusiaan.

Seratus dua puluh sembilan tahun setelah kelahirannya, Tan Malaka mungkin telah lama pergi. Namun mimpi tentang republik yang berdaulat, berilmu, dan bermartabat masih terus menyala. Seperti nyala lampu kecil di tengah malam yang panjang, pemikirannya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang selesai diterima, melainkan amanah yang harus terus diperjuangkan oleh setiap generasi.

Selamat mengenang Tan Malaka. Seorang guru bangsa yang hidupnya mungkin berakhir di medan revolusi, tetapi cita-citanya tetap berjalan bersama republik ini.*

*Penulis adalah Analis Kebijakan Publik & Kepala LP2MD ITB Vinus Bogor

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Etika Politik di Era Disinformasi (Tanggapan atas Pernyataan Amien Rais)

2 Mei 2026 - 22:31 WIB

Qodari Gantikan Angga Raka Jadi Kepala Bakom RI

27 April 2026 - 22:29 WIB

Trending di Uncategorized