Menu ✖

Mode Gelap

Opini · 13 Okt 2026 08:09 WIB ·

Sarasehan Kampus Ekologi: Ahmad Barizi Dorong Integrasi Sains, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal untuk Mengatasi Krisis Lingkungan


 Sarasehan Kampus Ekologi: Ahmad Barizi Dorong Integrasi Sains, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal untuk Mengatasi Krisis Lingkungan Perbesar

Tuban — Krisis lingkungan tidak cukup diatasi melalui pendekatan teknis semata, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang manusia dalam memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam. Perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk mempertemukan sains, spiritualitas, dan kearifan lokal dalam membangun kesadaran ekologis yang lebih utuh.

Gagasan tersebut menjadi pokok pemikiran Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A., dalam materi bertajuk “Memulai Gagasan ke Arah Kampus Ekologi: Merajut Spiritualitas, Sains, dan Kearifan Lokal untuk Ketahanan Lingkungan” yang disiapkan untuk Sarasehan Kampus Ekologi.

Dalam pemaparannya, Ahmad Barizi menekankan pentingnya menjadikan kampus sebagai ruang dialog ekologis. Melalui pendekatan ini, persoalan lingkungan tidak hanya dipelajari berdasarkan data dan fakta ilmiah, tetapi juga dipahami melalui pertimbangan nilai, pengalaman masyarakat, serta praktik kearifan lokal yang berkembang di berbagai daerah.

Menurut gagasan yang diusung dalam materi tersebut, pendidikan ekologis perlu bergerak melampaui penyampaian informasi mengenai kerusakan lingkungan. Pendidikan harus mampu membentuk cara berpikir kritis, menumbuhkan tanggung jawab, serta mendorong kemampuan masyarakat untuk belajar dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Krisis Lingkungan Membutuhkan Perhatian Serius

Materi Sarasehan Kampus Ekologi mengangkat sejumlah persoalan lingkungan yang dihadapi Indonesia, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, deforestasi, ketergantungan terhadap energi fosil, pencemaran sungai, hingga krisis sampah plastik.

Data yang dicantumkan dalam presentasi, dengan merujuk pada Indonesia Environment & Energy Center (IEC) tahun 2026, menyebutkan bahwa deforestasi neto mencapai 175.400 hektare, meningkat dibandingkan angka 121.100 hektare pada tahun sebelumnya. Materi tersebut juga menyebutkan bahwa luas kawasan hutan Indonesia sekitar 95,5 juta hektare atau 51,1 persen dari total daratan nasional.

Pada aspek pengelolaan sampah, presentasi yang merujuk pada Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2026 menyoroti persoalan sampah nasional, praktik pembuangan terbuka (open dumping), pencemaran air, kebakaran hutan dan lahan, serta kebutuhan pemulihan lahan kritis.

Berbagai persoalan tersebut memperlihatkan bahwa krisis ekologis memiliki dimensi yang luas. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan sosial, keberlanjutan sumber daya, dan hubungan manusia dengan alam.

Karena itu, pertanyaan mengenai lingkungan tidak berhenti pada apa yang sedang terjadi dan bagaimana penyebabnya. Masyarakat juga perlu mempertanyakan bagaimana krisis tersebut dipahami, nilai apa yang mendasari tindakan manusia, serta langkah apa yang dapat dilakukan secara bertanggung jawab.

Mengintegrasikan Tiga Sumber Pengetahuan

Salah satu gagasan utama Sarasehan Kampus Ekologi adalah mempertemukan tiga sumber pengetahuan, yaitu sains, spiritualitas, dan kearifan lokal.

Sains menyediakan bukti empiris, data, dan analisis untuk memahami perubahan lingkungan. Melalui pendekatan ilmiah, persoalan seperti pencemaran air, perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pengelolaan sampah dapat dikaji secara sistematis.

Spiritualitas memberikan dimensi nilai, makna, dan tanggung jawab moral. Perspektif ini mengajak manusia untuk merefleksikan perilakunya terhadap alam serta mempertimbangkan konsekuensi etis dari setiap keputusan yang diambil.

Sementara itu, kearifan lokal menghadirkan pengalaman masyarakat, konteks sosial-budaya, serta praktik yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan lokal dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memahami cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan dan menghadapi perubahan ekologis.

Ketiga sumber pengetahuan tersebut tidak harus diseragamkan. Sebaliknya, ketiganya perlu ditempatkan dalam ruang dialog yang memungkinkan pertukaran gagasan, pengujian perspektif, dan pembentukan pemahaman yang lebih menyeluruh.

Melalui pendekatan tersebut, persoalan ekologis diharapkan tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang, tetapi dipahami melalui hubungan antara bukti ilmiah, pertimbangan nilai, dan pengalaman nyata masyarakat.

Kampus sebagai Pusat Dialog Ekologis

Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis untuk mengembangkan pendekatan tersebut melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, forum akademik, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam bidang pembelajaran, mahasiswa dapat diajak membaca persoalan ekologis melalui data ilmiah, pengalaman lapangan, dan refleksi kritis. Dengan demikian, pembelajaran lingkungan tidak sekadar berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga pada kemampuan memahami persoalan dan merumuskan respons yang relevan.

Dalam bidang penelitian, kampus dapat menjadikan persoalan lingkungan di sekitar masyarakat sebagai sumber pertanyaan ilmiah. Penelitian tidak hanya bertujuan menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga mempertemukan berbagai perspektif untuk memahami tantangan ekologis secara kontekstual.

Adapun melalui pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat membangun kerja sama dengan masyarakat untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan solusi sesuai kebutuhan lokal.

Gagasan Kampus Ekologi dengan demikian tidak terbatas pada pembangunan fasilitas ramah lingkungan atau penambahan materi lingkungan dalam kurikulum. Lebih dari itu, Kampus Ekologi merupakan upaya membangun budaya akademik yang menjadikan hubungan manusia dan lingkungan sebagai bagian penting dari proses pendidikan.

Dari Pengetahuan Menuju Ketahanan Sosial-Ekologis

Materi tersebut juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap pendidikan ekologis. Prosesnya dimulai dari mengetahui data dan fakta, memahami hubungan serta konteks, merefleksikan nilai dan tanggung jawab, kemudian merespons melalui pembelajaran dan adaptasi.

Tahapan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang krisis lingkungan perlu diikuti kemampuan untuk memahami penyebab dan dampaknya, mempertimbangkan tanggung jawab manusia, serta mengembangkan tindakan yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Ketahanan sosial-ekologis menjadi salah satu tujuan penting dari proses tersebut. Ketahanan tidak semata-mata berarti kemampuan bertahan menghadapi krisis, tetapi juga kemampuan suatu sistem sosial untuk membaca perubahan, belajar dari pengalaman, menyesuaikan diri, dan terus berkembang.

Dalam konteks ini, pendidikan ekologis berperan membangun kapasitas individu dan masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menilai persoalan secara kritis dan terlibat dalam proses perubahan.

Mahasiswa sebagai Penggerak Perubahan

Mahasiswa memiliki peran penting dalam mewujudkan gagasan Kampus Ekologi. Dalam materi sarasehan tersebut, mahasiswa tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pengetahuan, melainkan sebagai pembelajar, penanya, penghubung, dan reflektor.

Sebagai pembelajar, mahasiswa perlu membaca bukti ilmiah dan pengalaman masyarakat. Sebagai penanya, mahasiswa didorong untuk menguji asumsi dan mempertanyakan pendekatan yang digunakan dalam memahami persoalan lingkungan.

Mahasiswa juga dapat berperan sebagai penghubung yang mempertemukan perspektif ilmiah, spiritual, dan lokal. Sementara itu, peran sebagai reflektor menuntut mahasiswa mempertimbangkan nilai, tanggung jawab, serta konsekuensi dari tindakan manusia terhadap lingkungan.

Pendekatan ini diharapkan membentuk mahasiswa yang mampu melihat persoalan ekologis dari berbagai sudut pandang, terbuka terhadap dialog, dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan.

Mewujudkan Kampus Ekologi melalui Kolaborasi

Gagasan Kampus Ekologi menempatkan dialog sebagai penghubung antara sains, spiritualitas, dan kearifan lokal. Melalui dialog tersebut, pendidikan tinggi diharapkan mampu mengembangkan kapasitas belajar, adaptasi, dan transformasi dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Implementasinya dapat dimulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan kampus dan masyarakat, seperti pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, kelestarian hutan, dan perubahan iklim. Persoalan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran, penelitian, diskusi akademik, dan program pengabdian yang melibatkan berbagai pihak.

Pada akhirnya, Kampus Ekologi bukan sekadar gagasan tentang lingkungan, melainkan upaya membangun cara berpikir dan budaya pendidikan yang lebih bertanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.

Melalui integrasi sains, spiritualitas, kearifan lokal, dan dialog, perguruan tinggi diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang mampu memahami krisis, belajar dari pengalaman, dan beradaptasi terhadap perubahan.

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama bukan hanya apa yang harus dilakukan oleh semua orang, melainkan persoalan ekologis apa yang paling dekat dengan lingkungan kita, pengetahuan siapa yang belum didengarkan, dan ruang dialog apa yang dapat mulai dibangun. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah, langkah nyata menuju Kampus Ekologi dapat dimulai.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

LKBHMI PB HMI Kecam Keras Pengancaman Ibu dan Anak di Pamekasan, Desak Mabes Polri Usut Tuntas dan Tangkap Pelaku

18 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Visiting Profesor Moderasi Beragama di Era Digital, Kunci Menjaga Kerukunan dan Mencegah Polarisasi Sosial

13 Oktober 2026 - 07:59 WIB

Abadikan Kebersamaan dan Dorong Digitalisasi Desa, Mahasiswa KKN Unikama Sukses Gelar Pengabdian di Sukodadi

13 September 2026 - 16:44 WIB

Maulid Nabi, Jalan Mahabbah dan Kemerdekaan Akhak

24 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Santri di Tengah Persimpangan Bangsa: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan

18 Agustus 2026 - 22:52 WIB

Isak Tangis Warnai Program Kelas Anti Bullying KKN Unikama Desa Sukodadi Wagir, di SDN 1 Sukodadi dan TPQ Raudhatul Ulum

16 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Trending di Pendidikan