Oleh: Durrotun Afifah*
Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kita tidak cukup hanya bertanya sudah berapa lama Indonesia merdeka, tetapi sejauh mana kemerdekaan benar-benar dirasakan rakyat? Sebab kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan kemampuan negara menjamin keadilan, kesejahteraan, pendidikan, dan masa depan yang layak bagi seluruh rakyat.
Dalam perjalanan bangsa, pesantren dan santri memiliki kontribusi yang tidak kecil. Pesantren telah menjadi ruang pendidikan, pembentukan karakter, sekaligus basis perjuangan masyarakat. Sejarah perjuangan kemerdekaan membuktikan bahwa ulama dan santri turut mengambil peran dalam mempertahankan Republik.
Namun, tantangan hari ini berbeda. Kita menghadapi ketimpangan ekonomi, mahalnya kebutuhan hidup, persoalan lapangan kerja, kualitas pendidikan, krisis pangan dan energi, korupsi, kerusakan lingkungan, hingga polarisasi dan disinformasi di ruang publik.
Karena itu, santri tidak boleh berhenti menjadi pewaris sejarah. Santri harus menjadi pelaku sejarah.
Semangat perjuangan santri hari ini harus diterjemahkan dalam keberanian membaca persoalan bangsa dan memberikan solusi. Santri harus hadir dalam ruang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, teknologi, hingga lingkungan. Pesantren juga harus diperkuat bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan produksi gagasan kebangsaan.
Di tengah demokrasi yang semakin dinamis, santri juga memiliki tanggung jawab menjaga ruang publik tetap sehat. Tradisi tabayun, musyawarah, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan harus menjadi modal untuk melawan hoaks, politik identitas, serta berbagai upaya membenturkan masyarakat.
Mencintai Indonesia tidak berarti harus membenarkan seluruh kebijakan pemerintah. Kritik yang argumentatif dan konstruktif justru merupakan bentuk tanggung jawab kebangsaan. Negara harus terbuka terhadap kritik, sementara masyarakat sipil harus terus mengawal agar kebijakan publik benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat.
Momentum 81 tahun kemerdekaan harus menjadi refleksi bersama: jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi simbol, sementara rakyat masih berhadapan dengan ketimpangan dan ketidakadilan.
Bagi santri, mengisi kemerdekaan berarti meneruskan perjuangan dengan cara yang relevan dengan zaman: melawan kebodohan dengan ilmu, melawan kemiskinan dengan pemberdayaan, melawan disinformasi dengan literasi, dan melawan ketidakadilan dengan keberanian bersuara.
Sebab, santri bukan sekadar bagian dari sejarah Indonesia. Santri adalah bagian dari masa depan Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
*Penulis adalah Sekretaris DPW Persatuan Mahasantri Indonesia Jawa Timur






