Malang- Krisis Ekologi dan Anatomi Kapitalisme Ekstraktif
Di tengah gempuran krisis iklim global dan percepatan laju eksploitasi sumber daya alam di Indonesia, kita menyaksikan paradoks pembangunan yang kian menyolok. Di satu sisi, narasi pertumbuhan ekonomi, hilirisasi industri, dan investasi hijau digaungkan sebagai sarana menuju kemakmuran nasional. Namun di sisi lain, realitas empiris di lapangan menunjukkan ironi yang menyayat: deforestasi yang masif, perusakan ruang hidup masyarakat adat, pencemaran sungai dan pesisir, hingga penggusuran komunitas lokal atas nama proyek strategis nasional.
Akar dari malapetaka lingkungan ini bukanlah semata-mata masalah teknis operasional atau kelemahan regulasi, melainkan sebuah penyakit struktural yang sistematis: keserakahan kapitalisme ekstraktif. Dalam corak produksi ekstraktif, alam dipandang semata sebagai komoditas, obyek kerukan yang tak berjiwa, serta cadangan kapital yang harus dieksploitasi demi akumulasi profit tanpa batas. Nilai intrinsik dari ekosistem dihancurkan dan digantikan oleh nilai tukar finansial yang sangat rapuh dan berjangka pendek.
Keterbatasan Pembacaan Klasik dan Urgensi Teologi Pembebasan Ekologis
Menghadapi cengkeraman kapitalisme ekstraktif tersebut, pendekatan kritis yang konvensional sering kali terjebak dalam dikotomi sempit. Hukum lingkungan kerap tumpul menghadapi oligarki, sementara wacana etika lingkungan akademis sering kali steril dari kepekaan teologis dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Di sinilah Teologi Pembebasan Ekologis (Eco-Liberation Theology) menemukan relevansi sejarahnya. Teologi pembebasan tidak lahir dari ruang hampa ideologis; ia tumbuh dari jeritan kaum yang tertindas (mustad’afin). Dalam lanskap kontemporer, penindasan tidak lagi hanya menimpa kelas buruh atau petani secara ekonomi, melainkan meluas hingga mencakup penderitaan bumi itu sendiri. Bumi adalah mustad’af baru—pihak yang dimiskinkan, dirusak, dan diselimuti trauma eksploitasi oleh syahwat kapitalisme.
Teologi pembebasan ekologis menegaskan bahwa iman Islam yang sejati tidak boleh bersifat antroposentris secara sempit. Tauhid sebagai pilar utama Islam bukan sekadar pengakuan atas Keutuhan Tuhan secara abstrak, melainkan juga pengakuan akan kesatuan ciptaan (wahdat al-wujud dalam arti etik-kosmologis). Merusak alam sama artinya dengan merusak ayat-ayat Tuhan yang terbentang di alam semesta (ayat kauniyah).
Rekonstruksi NDP: Membaca Ulang Bab Kemanusiaan dan Keadilan
Dalam konteks gerakan intelektual dan keislaman di Indonesia, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang dirumuskan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan kawan-kawan telah menjadi kompas ideologis bagi generasi muda terpelajar, khususnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun, merespons zaman yang berubah, NDP tidak boleh dibekukan sebagai dogma historis yang statis. NDP membutuhkan rekonstruksi radikal, khususnya pada Bab Kemanusiaan dan Bab Keadilan.
Pertama, rekonstruksi Bab Kemanusiaan. Konsep manusia sebagai khalifah fil ard (wakil Tuhan di bumi) dalam doktrin kemanusiaan NDP sering kali ditafsirkan secara antroposentris-hegemonik—seolah manusia diberikan lisensi penuh untuk menguasai dan memanipulasi alam. Rekonstruksi teologis menuntut transformasi pemaknaan khalifah: manusia bukanlah penguasa despotik atas alam, melainkan pemelihara (guardian/steward) dan sahabat bagi alam. Kemanusiaan yang sejati tidak dapat terwujud apabila manusia memutus tali kekerabatan kosmologisnya dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Kedua, rekonstruksi Bab Keadilan. Dalam teks NDP klasik, keadilan dipahami dominan sebagai keadilan sosial, ekonomi, dan politik antar-manusia. Di era Antroposen saat ini, konsep keadilan harus diperluas secara konseptual menjadi Keadilan Ekologis (Ecological Justice). Keadilan tidak hanya mengartikan pembagian hasil produksi yang merata di antara sesama manusia, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap hak alam untuk tetap lestari, keberlanjutan antar-generasi (intergenerational justice), serta pemulihan bagi komunitas lokal yang ruang hidupnya dirampas oleh mesin-mesin industri ekstraktif.
Praksis Perlawanan dan Orientasi Masa Depan Gerakan
Rekonstruksi NDP melalui kacamata Teologi Pembebasan Ekologis memiliki implikasi praksis yang sangat krusial bagi gerakan kader dan intelektual Islam di Indonesia. NDP tidak boleh lagi hanya diajarkan di ruang-ruang latihan kader sebagai wacana metafisika yang kering atau perdebatan politik praktis yang dangkal.
NDP harus ditransformasikan menjadi epistemologi perlawanan terhadap kapitalisme ekstraktif. Kader-kader gerakan mahasiswa harus berdiri di garis depan membela masyarakat adat yang tanah Udayanya digusur, menentang pencemaran laut akibat limbah tambang, serta merumuskan kebijakan alternatif yang pro-lingkungan dan pro-kerakyatan.
Melawan keserakahan kapitalisme ekstraktif membutuhkan kombinasi antara kedalaman iman, ketajaman analisis struktural, dan keberanian moral. Teologi Pembebasan Ekologis menawarkan landasan spiritual yang kokoh bahwa perjuangan menyelamatkan lingkungan adalah ibadah yang luhur, sebuah penegakan tauhid di muka bumi.
Penutup
Jika kita gagal merekonstruksi cara pandang teologis dan ideologis kita terhadap alam, maka kemanusiaan dan keadilan yang kita cita-citakan hanya akan menjadi utopia di atas bumi yang telah hancur. Saatnya mengembalikan NDP sebagai spirit pembebasan yang bernapas ekologis: membebaskan manusia dan alam dari belenggu keserakahan, serta menegakkan keadilan yang hakiki demi keberlanjutan peradaban.
Penulis: Yadi Darmawan






