Jakarta-suarakyat.id—Pemerintah tancap gas selamatkan 84 juta anak Indonesia yang akan jadi tumpuan bangsa di 2045. Caranya lewat Konsorsium 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang resmi diluncurkan Kementerian Kesehatan, Senin [28/4].
Menkes Budi Gunadi Sadikin mematok target agresif: pangkas kematian ibu dari 4.000 jadi di bawah 400 per tahun, dan kematian bayi dari 30.000 jadi di bawah 3.000. Angka stunting juga wajib turun di bawah 7%. “Kita tidak bisa kerja biasa-biasa saja sementara ini berkaitan dengan nyawa dan masa depan anak-anak kita,” tegas Budi saat peluncuran di Kantor Kemenkes.
Untuk kejar target itu, semua intervensi wajib berbasis data. Fokusnya cegah preeklamsia pada ibu hamil serta infeksi dan gangguan napas pada bayi baru lahir. Langkah konkretnya: pemeriksaan kehamilan minimal 8 kali, distribusi 10.000 alat USG ke Puskesmas, dan produksi suplemen MMS di dalam negeri. Program ini sudah diuji coba di 9 RS daerah dan 36 Puskesmas di Bogor, Bandung, Garut.
Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi menyebut penanganan stunting makin membaik. Indikator kesehatan yang tercapai naik dari 3 poin pada 2024 jadi 8 poin di 2025. Targetnya bukan sekadar bayi selamat, tapi tumbuh optimal lewat gizi dan stimulasi.
Konsorsium 1.000 HPK dibentuk agar pemerintah, swasta, akademisi, dan ormas tidak jalan sendiri-sendiri. Ada empat kelompok kerja yang mengawal fase sebelum hamil hingga anak usia dua tahun. Rabu Biru Foundation ditunjuk jadi sekretariat. Direktur Eksekutifnya, Toro Sudarmadi, memastikan koordinasi lintas sektor terukur dampaknya.
Ukuran sukses program ini sederhana: apakah bayi yang lahir besok, bahkan di desa terpencil, sudah dapat layanan kesehatan dan gizi terbaik di 1.000 hari pertamanya.
Sumber: Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI






